Refleksi 1 Suro: Menggugat 'Pabrik yang Putus' dan Menempa Kembali Tajamnya Pancasila
Selasa, Juni 16, 2026
Tulis Komentar
45News.id - Momentum malam 1 Suro dan 1 Muharram biasanya identik dengan ritual budaya dan keagamaan. Namun, bagi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya, momen ini menjadi waktu untuk melakukan "otokritik" atau kritik tajam ke dalam diri sendiri. Mereka melihat gerakan mahasiswa saat ini sedang mengalami masalah besar yang disebut sebagai "Pabrik yang Putus." Istilah ini menggambarkan kondisi di mana aktivis mahasiswa sangat sibuk dengan berbagai kegiatan, namun tidak memberikan manfaat nyata bagi kehidupan rakyat kecil.
Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., mengungkapkan kegelisahannya terhadap pola pergerakan mahasiswa zaman sekarang. Menurutnya, banyak mahasiswa terjebak dalam kesibukan semu, seperti diskusi yang berputar-putar tanpa ujung atau sekadar rajin membuat poster aksi di media sosial.
"Kita seperti pabrik yang putus: mesinnya meraung-raung, rodanya berputar, asapnya mengepul, tetapi tidak ada produk yang dihasilkan. Hanya ada bising. Hanya ada kesibukan semu," ujar Ni Kadek kepada tim super radio (15/6/2026).
Kritik ini menyasar pada kemandulan gerakan mahasiswa dalam menghadapi persoalan nyata di masyarakat. Meskipun banyak teori revolusioner yang dipelajari, hasilnya seringkali tidak menyentuh akar masalah seperti kemiskinan atau penggusuran lahan. Mahasiswa diingatkan untuk tidak menjadi "borjuis kecil" yang hanya berteriak atas nama rakyat demi popularitas atau jabatan, melainkan harus turun langsung dan merasakan penderitaan rakyat marjinal seperti petani dan buruh.
Dalam semangat 1 Muharram, Ketua DPC GMNI Surabaya Raya ini mengajak seluruh mahasiswa untuk melakukan "hijrah ideologis." Ini adalah ajakan untuk bertransformasi total, meninggalkan politik praktis yang hanya mengejar keuntungan sesaat atau menjadi pengikut partai politik tertentu. Mereka menegaskan pentingnya menjadi oposisi yang bermartabat demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen. Hijrah ini berarti pindah dari kegelapan sikap pragmatis menuju cahaya ideologi yang setia pada garis perjuangan rakyat.
Selain itu, momen 1 Suro ini digunakan sebagai waktu untuk "Menjamas Pusaka Republik." Jika biasanya keraton memandikan keris, GMNI mengajak mahasiswa memandikan atau membersihkan kembali nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dari "karat" kepentingan pribadi dan pasar bebas. Mereka menilai saat ini sila Keadilan Sosial hanya menjadi mantra yang diucapkan tanpa bukti nyata, sementara kekayaan alam lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang kaya atau oligarki.
Mahasiswa pun didorong untuk menjadi "empu zaman," yaitu sosok yang mampu menempa kembali keadilan sosial agar cukup tajam untuk memutus rantai penjajahan ekonomi. Tugas ini menuntut mahasiswa untuk berani membersihkan tafsir-tafsir keliru tentang ideologi bangsa yang selama ini justru merugikan masyarakat luas. Dengan begitu, Pancasila tidak lagi hanya jadi hiasan dinding, tapi benar-benar menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat.
Dalam perjuangannya, GMNI mengajak mahasiswa meneladani "Lelaku Sunyi" Bung Karno. Sejarah mencatat bahwa gagasan-gagasan besar Bung Karno tentang membela rakyat kecil tidak lahir dari keramaian, melainkan dari masa-masa sulit saat ia diasingkan di Ende dan Bengkulu. Bung Karno mengajarkan bahwa revolusi sejati lahir dari perenungan batin yang mendalam, bukan sekadar hura-hura atau teriakan di jalanan yang tanpa isi.
Lebih lanjut, gerakan ini menekankan pentingnya menyelaraskan batin (mikrokosmos) dengan perjuangan rakyat (makrokosmos). GMNI menyerukan "Mistisisme Revolusioner," sebuah sikap di mana setiap tindakan politik mahasiswa harus didasari oleh rasa cinta kepada rakyat, bukan dendam atau ketakutan. Hal ini selaras dengan ajaran spiritual Nusantara tentang kesatuan antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.
Ni kadek menyampaikan pesan penting bagi para aktivis adalah untuk selalu menjaga hubungan batin dengan rakyat. Sebagaimana Bung Karno pernah menekankan pentingnya mendengarkan denyut nadi rakyat, GMNI percaya bahwa kekuatan sejati ada pada mereka yang berdaulat.
"Samudera kebenaran yang paling luas bukanlah di luar sana, melainkan di dalam diri rakyat yang berdaulat," pungkasnya manifesto tersebut.(js)
Belum ada Komentar untuk "Refleksi 1 Suro: Menggugat 'Pabrik yang Putus' dan Menempa Kembali Tajamnya Pancasila"
Posting Komentar