-->
Loading...

Mengapa Sistem Pendidikan Indonesia Gagal Memanusiakan Manusia?


45News.id - Layar komputer jinjing itu berkedip lambat di sebuah ruang kelas yang pengap di sudut kota. Di dalam ruangan, seorang siswi menatap nanar baris-baris soal Matematika digital Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 yang menuntut penerapan strategi penyelesaian dalam beragam konteks nyata. Selama bertahun-tahun, ia hanya diajari bahwa adalah menghafal rumus demi nilai tinggi, namun hari itu sistem menuntutnya melakukan sesuatu yang asing: berpikir kritis. Fenomena ini bukan kasus tunggal, melainkan cerminan dari runtuhnya fondasi pendidikan nasional yang kini hanya berorientasi pada angka dan skor semata.

Ketika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merilis laporan evaluasi nasional pada 26 Mei 2026, publik disuguhi angka-angka yang menyayat hati. Rata-rata nilai Matematika SD bertengger di angka 42,41, sedangkan untuk tingkat SMP merosot lebih jauh ke angka 40,34, dengan hanya 9,67 persen murid yang masuk kategori baik. Angka-angka ini memicu kritik keras dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya. Banyak pihak menilai rendahnya capaian literasi dan numerasi ini adalah buah dari krisis filosofis akut yang mengabaikan hakikat manusia dalam proses belajar.


Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., angkat bicara mengenai rapor merah yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia ini. Dengan nada getir, ia menyatakan bahwa hasil TKA tersebut merupakan bukti nyata dari kegagalan sistemik yang selama ini dipaksakan kepada anak-anak bangsa. "Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin di atas kertas laporan pemerintah. Ia adalah jeritan sunyi dari ruang-ruang kelas yang telah lama kehilangan maknanya, di mana anak-anak kita dipaksa menjadi robot penghafal," ujar Ni Kadek Ayu Wardani saat diwawancarai mengenai urgensi evaluasi kurikulum nasional.

Menurut Kadek, pangkal dari seluruh persoalan ini adalah hilangnya arah dan tujuan hakiki dari mengapa anak-anak harus pergi ke sekolah setiap pagi. Sekolah tidak lagi menjadi tempat untuk menumbuhkan manusia yang utuh, melainkan telah direduksi menjadi pabrik saringan yang mencetak tenaga kerja siap pakai. 

"Sejak awal, mari kita nyatakan dengan jujur bahwa pendidikan Indonesia telah lama mengalami krisis filosofis yang akut. Kita tidak pernah benar-benar menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa sebenarnya anak-anak pergi ke sekolah?" tegas Ni Kadek Ayu Wardani dengan penuh penekanan.(12/6/2026)

Lebih lanjut, Kadek menyoroti bagaimana praktik di dalam kelas hari ini sangat mencerminkan konsep *banking education* atau pendidikan gaya bank yang pernah dikritik oleh filsuf Paulo Freire. Dalam model mekanis ini, murid ditempatkan sebagai objek pasif yang kepalanya dianggap kosong dan siap dijejali informasi instan secara sepihak. "Dalam praktiknya, sistem pendidikan kita telah memberikan jawaban yang keliru. Sekolah telah direduksi menjadi mesin seleksi dan sertifikasi, di mana murid hanya menjadi tabungan yang pasif dan guru menjadi teknisi kurikulum dari pusat," tutur Ni Kadek Ayu Wardani.

Dampak paling mengerikan dari model pendidikan gaya bank ini adalah lahirnya alienasi epistemologis, sebuah kondisi di mana para murid merasa terasing dari ilmu pengetahuan yang mereka pelajari sendiri. Mereka menghafal rumus Matematika tanpa memahami fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, serta membaca teks bahasa tanpa pernah meresapi keindahan sastra. "Hasil TKA 2026 adalah bukti kegagalan model ini. Ketika murid dihadapkan pada soal-soal yang menuntut penerapan strategi penyelesaian dalam beragam konteks, mereka langsung tumbang karena tidak pernah dilatih untuk berpikir kritis," jelas Ni Kadek Ayu Wardani.

Kritik tajam juga diarahkan pada pemanfaatan hasil TKA sebagai instrumen seleksi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi, yang dinilai justru melanggengkan rezim metrik yang tidak adil. Ketika mutu pendidikan hanya diukur dari angka, maka proses pembelajaran di sekolah akan terdistorsi dan terjebak pada metode teaching to the test. 

"Kami dari GMNI Surabaya Raya menolak dengan tegas penggunaan TKA sebagai alat seleksi untuk SPMB. Ketika hasil TKA menentukan nasib seorang murid untuk masuk ke sekolah negeri, tes ini berubah menjadi alat hukuman," kata Ni Kadek Ayu Wardani.

Ketidakadilan ini kian diperparah oleh potret ketimpangan infrastruktur digital yang sangat mencolok antarwilayah, di mana banyak sekolah di daerah tidak memiliki gawai dan internet yang memadai. Memaksa pelaksanaan ujian berbasis komputer di tengah keterbatasan fasilitas dianggap sebagai bentuk pemaksaan kebijakan yang abai terhadap realitas di lapangan. 

"Negara mewajibkan tes berbasis digital, tetapi tidak menyediakan perangkatnya secara merata. Ini bukan evaluasi yang adil, melainkan sebuah kekerasan epistemik negara terhadap rakyat kecil yang dipaksa ikut berkompetisi tanpa modal," tambah Ni Kadek Ayu Wardani.

GMNI Surabaya Raya mendesak pemerintah untuk segera melakukan reorientasi filosofis total dengan mengembalikan ruh pendidikan pada konsep kemerdekaan batin dan lahir yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Untuk mengatasi krisis ini, negara harus berani mengalihkan fokus dari obsesi pengukuran angka menuju pembenahan mutu dan kesejahteraan guru secara struktural. 

"Rendahnya skor TKA bukanlah masalah utama kita. Masalah utamanya adalah bahwa pendidikan kita gagal memerdekakan batin anak-anak; mereka diajari untuk patuh dan menghafal, bukan untuk mencintai pengetahuan," pungkas Ni Kadek Ayu Wardani di akhir wawancara.
Menatap masa depan, tantangan memperbaiki carut-marut pendidikan nasional ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan sekadar mengganti nama ujian atau merombak dokumen kurikulum setiap pergantian menteri. Diperlukan keberanian politik dan moral untuk meruntuhkan tembok birokrasi yang membebani guru dan mengekang kreativitas berpikir para murid di ruang kelas. Rapor merah TKA 2026 harus dijadikan momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk berhenti mengejar angka-angka semu, lalu mulai membangun sistem pendidikan humanis yang membebaskan manusia seutuhnya.(js) 

Belum ada Komentar untuk "Mengapa Sistem Pendidikan Indonesia Gagal Memanusiakan Manusia?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel