Rahasia Spiritual 'Melek’an' Suro: Bukan Sekadar Begadang, Tapi Jalan Mengenal Diri dan Tuhan
Selasa, Juni 16, 2026
Tulis Komentar
45News.id - Tradisi "melek’an" atau terjaga di malam hari, khususnya saat memasuki bulan Suro, sering kali menjadi perhatian masyarakat luas namun kerap disalahpahami. Praktik ini sebenarnya bukan sekadar aktivitas menahan kantuk biasa atau begadang tanpa tujuan, melainkan sebuah laku spiritual mendalam yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di balik keheningan malam, terdapat proses pengasahan batin yang sangat penting untuk mencapai kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa manusia.
Zain Supratno, seorang Mursyid Thoriqqoh Sattoriyah asal Ponorogo yang mendalami ilmu spiritual ketuhanan, menjelaskan bahwa tirakat ini adalah metode untuk mempertajam kepekaan rasa atau Roso.
"Tirakat melek’an atau menahan ngantuk waktu suro an sebenarnya cara kita untuk mempertajam mata batin dan melatih kepekaan Roso (rasa) dalam perjalanan mendekatkan diri kepada gusti allah, Dzat Yang Maha Kuasa, ungkap Zain dalam sebuah wawancara bersama tim super radio(15/6/2026)
Lebih lanjut, Zain menekankan perbedaan signifikan antara melek’an spiritual dengan begadang biasa yang sering kali dianggap memiliki dampak negatif secara medis. Menurutnya, dalam melek'an, tubuh memang terjaga secara fisik, tetapi batin bergerak aktif untuk melakukan refleksi hidup dan mengosongkan pikiran dari hiruk pikuk duniawi.
"Dalam lakon spiritual, tubuh kita memang terjaga, tetapi batin kita bergerak aktif untuk memfokuskan diri, mengosongkan pikiran dari gudo dunio (hiruk pikuk duniawi), kita itu melakukan refleksi mendalam atas ruang hidup kita, dan merasakan kehadiran Dzat Tuhan di dalam keheningan," jelasnya.
Senada dengan hal itu, Katibun, seorang senior alumni Bela Diri PSHT asal Dolopo yang juga mendalami spiritual, mencoba meluruskan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat awam. Ia menyatakan bahwa banyak orang salah mengartikan laku spiritual di malam hari sebagai ajang mencari kesaktian atau hal-hal mistis lainnya.
"Sering kali laku spiritual di malam-malam sepi seperti ini disalahartikan oleh masyarakat awam sebagai ajang untuk mencari hal-hal mistis, merawat khodam, atau berburu kesaktian," ujar Katibun.
Katibun menegaskan bahwa esensi sejati dari tirakat ini jauh melampaui urusan kegaiban, yakni sebagai proses pengenalan diri sendiri. Baginya, mengenal jati diri adalah langkah awal yang mutlak diperlukan untuk memahami kehidupan dan mendekat kepada Sang Khalik.
"Kita mengenal prinsip bahwa untuk mengerti kehidupan dan mendekat kepada Sang Pencipta, kita harus mampu mengenali siapa diri kita yang sebenarnya terlebih dahulu. Lakon (tradisi) ini adalah jembatan untuk menyelami batin kita sendiri, meredam ego, dan menemukan kedamaian sejati," tambahnya.
Bagi masyarakat awam, memahami melek’an dapat dimulai dengan melihatnya sebagai bentuk "detoksifikasi" pikiran dari kebisingan dunia yang melelahkan. Di saat dunia terlelap, seseorang memiliki kesempatan langka untuk meredam ego yang sering kali mendominasi kehidupan sehari-hari. Dengan meredam ego tersebut, seseorang dapat lebih jujur dalam melihat kekurangan diri sendiri, sehingga tercipta harmoni antara hati dan pikiran yang membawa pada ketenangan hidup.
Pada akhirnya, tradisi melek’an Suro adalah sebuah warisan spiritual yang menawarkan jalan menuju kedamaian batin melalui kesabaran dan kesunyian. Melalui laku ini, seseorang diajak untuk tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga "terjaga" atau sadar secara spiritual dalam setiap langkah hidupnya. Tradisi ini merupakan jembatan emas bagi siapa saja yang ingin menemukan makna hidup yang lebih dalam dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keheningan malam.(js)
Belum ada Komentar untuk "Rahasia Spiritual 'Melek’an' Suro: Bukan Sekadar Begadang, Tapi Jalan Mengenal Diri dan Tuhan"
Posting Komentar