-->
Loading...

Alumni GMNI Anom Surahno Tekankan Pentingnya Hati Nurani Jurnalis dalam Menjaga Etika AI dalam Jurnalistik


Anom Surahno, SH, M.Si, saat memberikan perspektif kepada para kader(Foto:Vico Wildan 10/6/2026)

45News.id - Pelatihan Jurnalistik Batch 2 yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya pada hari Rabu siang (10/6/2026) menyoroti tantangan besar jurnalisme di era disrupsi, yakni penggunaan Artificial Intelligence (AI). Kegiatan ini menekankan bahwa meskipun teknologi mampu meningkatkan efisiensi riset, kendali moral dan ideologi tetap harus dipegang sepenuhnya oleh jurnalis. Hal ini penting untuk memastikan setiap karya jurnalistik tetap memiliki keberpihakan yang jelas terhadap masyarakat.

Hadir sebagai narasumber utama, Anom Surahno, SH, M.Si, memberikan perspektif yang kaya akan pengalaman. Beliau merupakan alumnus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan GMNI yang pernah menjabat sebagai Kepala BKD Jawa Timur pada tahun 2018. Saat ini, Anom bertugas sebagai Fungsional Asesor SDM Aparatur Ahli Utama, sebuah latar belakang yang memadukan keahlian komunikasi publik dengan tata kelola birokrasi.

Dalam pemaparannya, Anom menegaskan bahwa kader GMNI tidak boleh alergi terhadap kemajuan teknologi, namun harus mampu menaklukkannya. 

"AI adalah asisten yang sangat efisien untuk membantu riset data, transkripsi wawancara, hingga menyusun draf awal tulisan secara cepat. Namun, kecerdasan buatan tidak memiliki hati nurani, moralitas, maupun kepekaan sosial dalam melihat realitas di lapangan," ujar Anom Surahno di hadapan para peserta.(10/6/2026)

Poin krusial yang disampaikan adalah pentingnya verifikasi berlapis atas setiap informasi yang dihasilkan oleh algoritma. 

Menurutnya, hasil olahan AI jangan sampai ditelan mentah-mentah tanpa melalui proses cek fakta yang ketat di dunia nyata. Esensi jurnalisme yang berkualitas terletak pada orisinalitas analisis dan ketajaman opini, hal yang hingga saat ini tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan manapun.

Anom juga mengingatkan bahwa tanggung jawab etika dan hukum atas sebuah produk pers bersifat mutlak bagi jurnalisnya. Penggunaan aplikasi AI tidak bisa dijadikan alasan untuk melarikan diri dari konsekuensi hukum jika terjadi kesalahan informasi.

"Tanggung jawab hukum dan etika pers atas setiap kata yang terbit di media sepenuhnya melekat pada integritas jurnalisnya, bukan pada aplikasi kecerdasan buatan yang Anda gunakan," tegas alumnus PWI tersebut.

Bagi kader GMNI, karya jurnalistik harus tetap membawa "roh perjuangan" dan keberpihakan kepada kaum Marhaen. Tugas sejarah jurnalis mahasiswa adalah membongkar ketimpangan sosial dan menyuarakan aspirasi rakyat yang sering kali luput dari rekaman mesin digital. Algoritma hanya bekerja berdasarkan pola data masa lalu, sedangkan jurnalisme progresif revolusioner harus mampu menangkap denyut nadi keadilan di masa kini.

Fatchur Rohman, Ketua RW (Rukun Warta) dari Rumah Literasi Digital saat Berdiskusi dengan kader GMNI(Foto:Vico Wildan 10/6/2026)

Senada dengan hal tersebut, Fatchur Rohman, Ketua RW (Rukun Warta) dari Rumah Literasi Digital, menyoroti perbedaan kualitas hasil tulisan antara jurnalis berpengalaman dengan mereka yang hanya mengandalkan teknologi. Baginya, teknologi AI memang mempermudah proses pembuatan karya tulis, namun esensi dari sebuah tulisan tetap membutuhkan pengalaman empiris dan kepekaan rasa.

Fatchur menekankan bahwa penggunaan AI tanpa dasar kemampuan menulis yang kuat akan menghasilkan karya yang hambar. 

"Esensi dari sebuah tulisan itu sendiri memerlukan jam terbang. Tentunya beda sekali orang yang terbiasa menulis lalu dimudahkan oleh AI, dengan orang yang tidak terbiasa menulis lalu dimanjakan oleh AI. Hasilnya akan kelihatan," jelas Fatchur dalam sesi diskusi bersama peserta. (js) 

Belum ada Komentar untuk "Alumni GMNI Anom Surahno Tekankan Pentingnya Hati Nurani Jurnalis dalam Menjaga Etika AI dalam Jurnalistik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel