-->
Loading...

Tangkis Budaya Asing, Taufik Monyong Gagas Kartu Aksara Jawa Berisi 92 Kartu Pembacaan Spiritual Nusantara

Taufik Hidayat, yang lebih dikenal dengan julukan Taufik Monyong atau Cak Monyong, adalah seorang seniman, budayawan, dan aktivis kenamaan asal Surabaya, Jawa Timur. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) dan aktif dalam melestarikan berbagai kesenian tradisional

45News.id – Derasnya arus globalisasi dan penetrasi budaya asing kian mengikis kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur di Tanah Jawa. Menghadapi fenomena de-kulturalisasi tersebut, budayawan sekaligus seniman lintas media asal Jawa Timur, M. Taufik Hidayat atau yang akrab disapa Taufik Monyong meluncurkan sebuah inovasi radikal berbasis kearifan lokal. Ia secara resmi mempublikasikan megaproyek kebudayaan berupa Kartu Aksara Jawa, sebuah media kontemplasi spiritual dan edukasi yang dirancang khusus untuk membendung dominasi tren luar seperti kartu Tarot Barat di Indonesia.

Latar belakang penciptaan kartu ini berakar dari keprihatinan mendalam Taufik terhadap hilangnya ikatan emosional dan intelektual anak muda dengan aksara tradisional. Di tengah maraknya tren mistisisme modern ala Barat, ia melihat ruang kosong yang semestinya bisa diisi oleh filsafat adiluhung Nusantara. 

Melalui proses riset dan perenungan yang panjang, Taufik mentransformasikan 20 simbol dasar Honocoroko menjadi sebuah sistem media interaktif. Proyek ini bahkan telah didaftarkan ke Pusat Pelayanan Hukum (Legal Hub) Kanwil Kemenkumham Jatim guna mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara resmi.

Secara struktural, inovasi ini memiliki keunggulan komparatif yang sangat kuat karena 1 set Kartu Aksara Jawa ini berjumlah tepat 92 kartu. Jumlah tersebut merangkum seluruh konstelasi linguistik dan teologis Jawa kuno, melebihi kapasitas standar kartu tarot konvensional yang biasanya hanya berjumlah 78 kartu. Desain visualnya pun digarap apik dengan memadukan struktur kartu permainan modern bersama simbolisme Nusantara, seperti formasi geometris menyerupai gunungan wayang, aksen warna tradisional hitam-merah, hingga ilustrasi karakter topeng dan mitologi Aji Saka.

Kartu Aksara Jawa yang Dicetuskan Cak Monyong

Dari segi fungsionalitas, cara membaca permainannya mirip seperti kartu tarot, namun sepenuhnya digerakkan dengan kearifan khas budaya Nusantara dan landasan Ilmu Jawa. Setiap helai dari 92 kartu yang terbuka tidak lagi merujuk pada arkaisme Eropa lama, melainkan membedah tatanan teologis, ramalan laku hidup, serta pesan makrokosmos-mikrokosmos (jagat gede-jagat cilik) yang melekat pada urutan Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Hal ini menjadikannya media kontemplasi batin yang sangat relevan dan kontekstual dengan psikologis masyarakat Indonesia, sekaligus sarana belajar aksara daerah yang rekreatif.

Taufik Monyong menegaskan bahwa langkah taktis ini diambil demi menyelamatkan masa depan kebudayaan nasional yang kian terpinggirkan dari benak generasi baru. 

"Ini adalah salah satu cara kami untuk mengembalikan budaya Nusantara di Tanah Jawa. Kita melihat realitas di lapangan bahwa kebudayaan asli kita semakin ditinggalkan oleh masyarakat, khususnya anak muda, karena mereka jauh lebih tertarik terhadap budaya luar," ujar Taufik Monyong saat memberikan keterangan(11/6/2026)

Ia menambahkan,"Jika kita tidak menciptakan media tandingan yang asyik, anak-anak kita akan lebih kenal simbol-simbol Barat daripada filosofi hidup tanah kelahirannya sendiri."

Lebih dari sekadar instrumen ramalan atau permainan visual, Taufik kini tengah memperjuangkan misi yang jauh lebih substansial, yaitu membawa Kartu Aksara Jawa ini masuk ke dalam ekosistem pendidikan formal di sekolah-sekolah. Melalui gerakan ini, ia menyuarakan pentingnya merombak metode pengajaran bahasa daerah yang selama ini dinilai kaku dan membosankan.

"Selama ini pelajaran bahasa daerah sering kita anggap sesuatu yang membosankan karena metodenya hafalan di papan tulis. Nah lewat kartu ini, kita bawa metode gamifikasi belajar lewat interaksi sosial yang tidak kalah dengan permainan barat," cetus Taufik(11/6/2026)

Dalam setiap formulasinya di sekolah-sekolah, aspek yang diperjuangkan Taufik bukan sekadar kemampuan literasi panyeratan (penulisan), melainkan internalisasi pendidikan karakter berbasis filsafat Jawa. Ia mendorong agar para pemangku kebijakan, mulai dari guru muatan lokal hingga dinas pendidikan terkait, bersedia membuka ruang bagi media pembelajaran alternatif ini. 

"Di dalam 20 aksara dasar Honocoroko itu ada tatanan moralitas, budi pekerti, dan tuntunan hidup yang luar biasa. Melalui permainan kartu ini, nilai-nilai adiluhung itu otomatis terserap ke dalam bawah sadar siswa tanpa merasa digurui," jelas mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur tersebut.

Melalui publikasi masif dan konsistensi pergerakan di sekolah-sekolah, Kartu Aksara Jawa isi 92 lembar ini diharapkan mampu memicu lahirnya gelombang kesadaran baru di masyarakat. Taufik Monyong membuktikan bahwa menjaga spiritualitas khas Nusantara tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku dan menutup diri dari zaman. 

"Kita tidak bisa melarang budaya luar masuk, tapi kita bisa memperkuat benteng pertahanan dari dalam. Dengan Kartu ini kita bisa menjaga warisan leluhur kita ..ini adalah tuntunan yang bisa kita pakai..kita punya ilmunya..leluhur kita sudah mengajarkan itu..tinggal kitanya mau pakai apa tidak..," pungkas Taufik mengakhiri wawancara.(js)

Belum ada Komentar untuk "Tangkis Budaya Asing, Taufik Monyong Gagas Kartu Aksara Jawa Berisi 92 Kartu Pembacaan Spiritual Nusantara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel